![]() |
Source: https://i.ytimg.com
|
Year : 2016
Genre : Drama, Romance
Duration : 110 Minutes
Director : Thea Sharrock
Production Studio : New Line Cinema, Metro-Goldwyn-Mayer, Sunswept
Entertainment
Cause love is unconditional..
Yeaa, that's my simple signature opening statement for this review. Bingung juga kalau mau pilih statement buat genre macam ini, cause anything about love is undescribeable. uwu.
Me before you, you after me. If you'd like to, let's chill like we're in Miami. holysht. itu pantun or what. Been just reviewing for two movies already make me like dumb. To all of you Gengs, my beloved reader, I deeply apologize if I'm getting more freak through the time, okey.
![]() |
Source: https://ewedit.files.wordpress.com
|
Ok, back again. Film ini menceritakan dua tokoh utama who like you already guess, they fell in love one another eventually. Si tokoh pria, Will Taynor, diperankan oleh Sam Claflin. Will, seorang cowok yang charming, sukses, kaya raya, punya segalanya, seolah hampir punya a perfect life lah istilahnya, hingga suatu kejadian yang mengubah hidupnya selamanya. Suatu hari, ia tertabrak sepeda motor saat ia berjalan menuju urusan pekerjaannya sembari menggunakan ponselnya di tengah jalan. Kecelakaan itu membuat hampir keseluruhan badannya lumpuh sebab terjadi kerusakan pada saraf leher, spinal, hingga tulang ekornya. Sementara, Louisa Clark yang diperankan oleh Emilia Clarke, adalah seorang cewek polos, lucu nan lugu, berasal dari keluarga sederhana, yang digambarkan punya style yang 'ngawur'. Lou baru dipecat dari toko roti tempat ia bekerja. Karena kebutuhan keluarganya dimana menuntut ia untuk membantu menghasilkan uang, menjadikan awal pertemuannya dengan Will. Suatu hari, ia melamar pekerjaan pada keluarga Will, yang tak ia sangka pekerjaan itu adalah menjadi perawat/asisten untuk Will di kesehariannya.
Will ini hidupnya bener-bener sudah kacau. Walaupun keluarga dia kaya raya, yang mana bisa memberikan fasilitas terbaik untuk kehidupannya dan mengusahakan dengan keras untuk kesembuhannya, tetap saja hampir seluruh hidup dia telah hilang. Bukan cuma fisik yang terambil dari hidupnya, tapi semua aspek kehidupannya yang mengikuti hilangnya kemampuan fisik itu. Pekerjaan, hubungan percintaan, kehidupan sosial, dan lainnya seolah meninggalkan dia dalam kekosongan hidup yang tak ada lagi artinya.
Pertemuannya dengan Louisa bukanlah sebuah kebetulan, she's like an angle being sent right from heaven just for him. Di film ini menceritakan tentang proses Lou dalam 'mencoba' mengubah pandangan Will akan hidupnya. I know I said that she's being like his angle, but I can't tell you the 'output' for her whole 'trying' thing. That would be a big gigantic alert.
![]() |
Source: https://world.wng.org
|
But for sure, keseluruhan proses yang Lou lakukan itu berjalan dengan penuh suka duka yang datang dari berbagai aspek lain dalam kehidupannya, begitupun kehidupan Will. Still, perjalanan itu dibawakan melalui rangkaian sinematik yang indah.
Melalui setting latarnya yang mengambil lokasi di sebuah kota kecil di Inggris, membuat warna film ini semakin hangat, dibarengi dengan sinematografi yang ciamik juga pastinya. Oh iya, film ini diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Jojo Moyes. Most of the people who have read the novel, said that the movie wasn't as good as the novel. Banyak juga yang bilang ini cuma film yang mirip mirip sama The Fault On Our Stars. However, since I haven't read the novel yet, I'm still thinking that it is a pretty lovely movie. Lagian, hal yang kusebutkan sebelumnya tadi memang hal biasa yang terjadi pada film adaptasi kan. Everyone has their own view, their own taste.
Film ini sebenarnya bisa dibilang punya ending yang... *bleep*. ehe. But truly, to myself, the ending literally could makes me cry, cry from sadness, touched, also happiness and warmth. mixed feeling lah pokoknya. terutama dari narasi-narasi penutupnya.
![]() |
Source: https://66.media.tumblr.com
|
That's for my first-time-watched feelings. Kedua kalinya nonton, still, I cried. Kali ini, what makes me sad is because di sepanjang film, aku bener bener naro simpatiku yang besar buat Will. Sepanjang film aku terus ngebayangin kalo aku yang ada di posisi dia, like truly I walked on his shoes. Ngebayangin hidup bertahun-tahun cuma bisa gerakin bagian tubuh dari leher ke atas, harus ngehadapi segala masalah yang beberapa sudah kugambarkan sebelumnya di atas. bener-bener gak bisa deh. Nah, jadi yang bikin nangisnya itu karena all the sudden ku tersadar with all the countless blessing that my God has ever been giving to me. Literally makes me more, more, and more grateful for the live I have, for EVERYTHING I HAVE. huhu. sumpah bersyukur banget. mau nangis lagi nulis ginian kan. its 2 a.m right now, Gengs. could be the peak hour of all emotions.
Ya gitulah, I know I was being strangely random about that. But that's one of my most precious value that I could ever get from a movie. I hope you can get the same.
Lastly, I'd like to give you a closing line that I pick right from this movie itself. It was being said by Will anyway.
.
.
Push yourself. Don't settle. Just live well. Just LIVE.
Reference:
https://www.imdb.com/title/tt2674426/





Comments
Post a Comment